Seribu Dari Satu Kata
Aku suka
ketika waktu berjalan lebih cepat berjalan lambat hanya sebuah kekurangajaran
yang tidak semestinya,heningnya detik jam hanya membawa kesunyian entah alur
mana yang akan dilewati tidak mengerti,aku tidak mengerti apa alasannya rasanya
ingin berteriak,marah,menangis tetapi
tidak ada yang mendengarkan apa salahku begitu hina dimata waktu apa yang bisa menghapus dosa ini keadaan bahkan hanya
membuat buta menghalangi jalan dan membuat kaki ini tersandung.
Apa sebegitu
menakutkannya sampai aku semembisu ini sampai kapan mata ini bisa terbelalak
kembali, aku harus menuggu sejam,sehari,seminggu saat setahun itu tiba apa mu
ngkin dunia ini akan selalu adil bernggapan bahwa perubahan itu ada apa aku
harus mempercayainya?
Buruk! Ini
lebih buruk dari pada siang tanpa matahari bahkan itu masih sangat tidak
keterlaluan termat heran tidak bisa kembali. Rasanya tangis ini harus segera
tumpah ruah dikedalaman hati tapi hati mana yang kan terima bahkan ketika ada
hati yang bersedia pun aku takut membasahinya.
Siapa
perduli? kamu? Iya, perduli apa kamu?kamu siapa? tahu apa kamu ? jangan bodoh
urus saja hatimu bahkan aku juga tidak tahu hatimu sesuci apa aku tidak
mengurusinya sebagai manusia.
Aku senang
lebih dari itu aku tahu tidak pernah memilikinya tapi aku pernah merasakan
kehadirannya walaupun hanya selintas seperti menunggu daun hijau itu gugur lalu
terjatuh kemudian aku menyapunya dan orang asing memulainya setelah aku.Aku
hanya penasaran tapi seperti tidak ada jawaban dan orang lain menjawabnya
sayang nya aku tidak menginginkan jawaban seperti itu aku harus mengikuti
langit ketika dia memberikan keadilan kepadaku.
Tuhan tidak
lagi memberikan daun kepadaku tuhan memberiku bunga,sangat indah kamu tahu
sakura? tidak,tidak secantik itu bahkan mawar pun kalah. harum wanginya membuat
sesak namun membuatku tertawa setiap harinya bukan merah ataupun biru warna itu
lebih menarik membuat semua yang memandang terpana.
Aku juga
bertanya kepada semesta dia itu mahluk macam apa kenapa begitu indah
keindahannya bahkan membutakan setiap kedipan mataku.
Beberapa
waktu kemudian dia menghilang seperti ditelan waktu aku menunggunya
mengharapkannya bahkan menunggu peluknya sesekali kecupan kening itu terlintas
dan aku ingin itu terulang.Lalu tuhan tidak membiarkan aku gila dengan rasa
berharap ,dia akhirnya pulang dan aku sangat senang aku sangat bahagia lebih
dari apapun aku bisa bersumpah ini lebih dari aku mendapatkan hujan saat aku
kehausan ,dia selalu meminta maaf bahkan dia adalah bayi yang tak pernah
berdosa di mataku tak ada cacat atau bahkan hina walupun dia absurd karena aku
selalu memaafkannya.
Semusim
berlalu dia hilang kembali bahkan kali ini aku fikir iblis mengambilnya dia
menyembunyikannnya dariku dia membuat langitku redup menajadikannya hujan dan
hujan itu rasanya tidak berhenti setiap hari bahkan aku terjatuh karena
basahnya rasanya sakit dan itu memilukan lalu aku bertanya lagi kepada tuhan
“ya Tuhan apa maksudnya ini?” kenapa dia tak juga kembali sampai hari ini,Padahal
aku masih merindunya bahkan sampai hujan kembali mereda.
Hari
berganti bulan sekian lama hati pun begitu telah sekian lama maka berganti
menjadi lelah dan menghampiri dengan terpaksa untuk beberapa saat,haruskah
berhenti sementara matahari pun tak pernah berhenti menjadi diam untuk
menyinari aku tak sekuat itu jujur aku terlalu rapuh. kehilangan adalah garis
yang harus dihampiri dan tahukah aku tidak begitu menyukainya sama sekali.
Maaf aku
lelah untuk memikirkan bagaimana awan itu tersenyum sementara langit mengujinya
sedemikian sulit tak bisa bertolak kemanapun, hanya bisa memandanginya dari
kejauhan itu adalah nafas menjadikanku hidup walaupun setengah mati.tuhan aku tahu
tuhan mendengarku saat ini hanya rasa terimakasih dan aku menjadi kuat kembali
itu lebih dari cukup rencanaMu adalah penantian indah bagiku aku meyakininya
untuk rasa sakit aku juga berterimakasih aku akan terbiasa untuk mengatakan aku
baik-baik saja dan tidak apa-apa.
Sekian lama
akupun memikirkan berdosa dengannya,semalam suntuk bukan tetapi sementara waktu
bahkan tidak ini lebih indah aku memikirkannya kembali sekalipun neraka menjadi
milik bersama iya aku memintanya setiap waktu hanya itu sampai sebegitu karena
surganya tidak ditampakan kepada ku.
Lelucon yang
sama hilang dan kembali seperti terbiasa untukmu dan menerimamu seperti
terbiasa untuku kalbuku yang kamu pijak itu seperti tidak memberi bekas bhkan
yang kemarin masih perih rasanya belum hilang,memang lucu akupun tau entah akan
bagaimana nanti tapi aku minta kepada semesta biarkan kami bersama di dalam suka
dan duka yang akan ada.
Karena
dirimu adalah hembusan nafasku sesak rasanya iya aku sempat sesak karena
ketiadaanmu jangan pergi lagi aku akan menyerahkan seluruh waktuku dan
bersumpah atas nama langit yang bertasbih kepada kita yang juga tertawa melihat
kita.
Untuk
pelukan yang kemarin dan rindu yang kemarin bisakah memintanya terulang?
Bisikan itu
masih terasa dan begitu hangat entah kenapa selalu ingin memulai tanpa
mengakhiri dan tidak tau entah kenapa.
Tidak ada
rasa bersalah untuk hari kemarin mungkin tuhan memaklumi untuk kesekian kalinya
menyentuh batin sampai titik terdalam yang pernah dijamah itu bukan kepalsuan
itu juga bukan neraka tapi itu sesuatu yang membuat mulut membisu tapi ingin
berteriak.
Dan lagi aku
selalu tersenyum untuk kesakitan yang indah itu.Berdosa apabila aku melupakan
sedetik bahakan semenit rasanya tidak rela dan tak akan tergantikan untuk
hembusan berikutnya
Malam ini
terlalu hening terlalu hampa sepertinya langit tertidur pulas ia tak mengabari
apakah baik-baik saja atau tidak.Aku tak apa nanti mungkin akan terbiasa dengan merela begitu
saja,diantara titik dan koma rasanya ingin menerka kenapa dan kenapa? Dan pada
akhirnya aku bertanya kepada siapa apa kepada yang disana,bilamana tidak ada
akan sekuat tenaga berupaya memberi nafas diantara nafas hingga sesak tiada
tara akan kuulangi begitu saja.
Untuk semua
hal hal tentang siang ini menyerah
rasanya adalah pilihan,mungkin akan lama butuh waktu hingga ribuan detik bisa
kembali menghela,Pertanyaan harus apa dan bagaimana kembali ada, iya benar
namanya juga tidak terduga.
Ini
seharusnya cukup,cukup jangan jamah lagi hati ini terlalu terkoyak disini aku
sendiri sementara kian hari tak jelas malah semakin perih membiru aku takut dan
takut aku fikir tak akan terjadi lagi untuk kesekian kalinya bahkan kali ini
tuli saja masih bisa mendengar dan buta saja masih terlihat sampai berfikir apa
pulang saja ke bumi membenam dengan segala jahitan luka di dada menyaksikan
sendiri betapa dunianya begitu ada hanya untuknya bukan untuk aku ataupun
hatiku.
Komentar
Posting Komentar